A beautiful theme

Isn't WordPress cool?

Shine

Cool eh!

Giving you rotating images in the header with links

Churches

A Header Slideshow

And link to anywhere from the image...

Civic Involvement

Beautiful...

Wow!

Action

Recent Posts

Testimony

"Never bend your head. Always hold it high. Look the world straight in the face.", by the Amazing Helen Keller (a blind-deaf woman who able to speak)

Meningkatkan Kemampuan Mendengar Anak Paska Pemasangan ABD

Sep 16th, 2008 by admin | 0

abd-images

Di buku “A Practical Guide to Quality Interaction With Children Who Hava a Hearin Loss” karangan Morag Clark, banyak sekali hal yang harus dilakukan buat meningkatkan kemampuan mendengar anak paska pemasangan ABD.

Beberapa hal yang harus tidak dilakukan setelah pemasangan ABD

  • Melebih-lebihkan bentuk mulut kita pada saat berbicara kepada anak, jika dilakukan anak akan lebih berkonsentrasi melihat bentuk mulut kita daripada mengoptimalkan sisa pendengarannya. Berbicara secara normal dengan menggunakan penekanan pada setiap katanya, dan juga berirama serta tidak terlalu cepat dalam pengucapannya.
  • Ekspresi pada wajah yang berlebihan
  • Menyengaja agar anak melihat bentuk bibir kita pada saat berbicara daripada menggunakan pendengarannya.
  • Menepuk atau menyetuh anak daripada memanggil namanya. Panggillah nama anak dari jarak yang dekat telinga untuk permulaan, jika dalam 2-3 tidak ada respon dia menoleh maka sentuhlah dia sambil menyebutkan namanya. Untuk mengajarkan kepada dia bahwa suara yang dia dengar tadi adalah untuk memanggil namanya.
  • Menggunakan bahasa tubuh yang dibuat-buat atau menggunakan bahasa isyarat. Anak akan merasa senang menggunakan bahasa isyarat karena cenderung lebih mudah dan tidak memerlukan konsentarsi yang penuh dalam memahami bahasa.

Sedikit demi sedikit dihindarkan untuk lebih mengembangkan kesadaran akan mendengar bagi anak.

Keikutsertaan orangtua dan profesional melihat perkembangan bicara anak setelah mereka belajar mendengar. Ada banyak faktor untuk mengembangkan kemampuan dengar anak.

  • Manajemen anak

anak dengan kebiasaan tak terkendali biasa tidak menggunakan sisa pendengarannya secara maksimal. Orangtua tidak menuruti anak dan harus menekankan kepada orangtua agar anak berusaha menggunakan pendengarannya.

  • Posisi

Orangtua harus menyadari jarak speaker dari sumber suara akan mempengaruhi pendengaran anak. Orangtua dianjurkan pada awal belajar mendengar untuk terus melakukan proses belajar mendengar pada saat berinteraksi sehari-hari secara natural.

  • Kondisi ABD

ada beberapa hal yang harus setiap hari dilakukan: Mengecek baterai, Memeriksa ear molds karena ear molds yang tidak pas akan membuat anak tidak nyaman dalam mendengar.

  • Menghindarkan suara yang mengganggu

Walaupun pada keadaan normal terdapat berbagai macam bunyi disekitar tetapi pada saat anak belajar mendengar usahakan suasana diruangan belajar nyaman dan tidak terdapat suara yang mengganggu.

  • Memberikan dukungan kepada anak untuk mendengar untuk pengembangangan bahasanya

Mengajarkan anak yang masih kecil dengan suara-suara binatang akan membantu dan anakpun senang melakukanya, serta bunyi kendaraan misalnya : aaaaa untuk pesawat terbang. pada kehidupan sehari-hari banyak hal menarik yang bisa dipakai untuk belajar mendengar.

  • Menghindari tes yang berlebihan

Orangtua sangat senang sekali jika anaknya dapat mendengar dan menoleh jika namanya dipanggil. Janganlah sering memanggil namanya untuk sekedar mengetes saja. Perlu diingat anak normalpun seringkali tidak memperhatikan bunyi pada sekitarnya pada saat mereka sedang melakukan aktivitas yang menyenangkan.

  • Melihat atau tanda petunjuk

Pada proses belajat mendengar, orangtua belajar untuk menghindari memberikan petunjuk secara visual yang tidak diperlukan, pada saat bersamaan selama berinteraksi anak melihat secara natural pada saat orang berbicara. Dalam hal ini anak menggabungkan mendengar dan melihat pada keadaan berinteraksi. Sama dengan anak normal

  • Mendengar sebagai dasar keterampilan berbicara

Pada saat anak mendengar, diawal kemampuan mendengar adalah mendeteksi adanya bunyi, setelah itu pada tahap selanjutnya membedakan bunyi dari jenis bunyi serta arah sumber bunyi, dan mengidentifikasikan bunyi bisa menunjukkan bunyi apakah yang anak dengar hingga memahami arti dari bunyi yang didengar menjadi sebuah bahasa.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua dan anak di rumah setelah pemasangan ABD. Masih banyak hal yang bisa dipelajari dari buku Morag Clark yang akan coba disampaikan disini tetapi dengan berbagai keterbatasan yang ada.

Sumber: http://rozarumaisho.wordpress.com/

Cerita Shafa: Tuna Rungu Jangan Menjadi Hambatan

Sep 15th, 2008 by admin | 0
Posting ini dibuat oleh Shafa, seorang anak yang merupakan inspirator kami dan anak-anak kami untuk tidak menyerah dengan ke”tidak normal” an pada pendengaran. Berikut merupakan penuturannya.

droppedimage_21

Namaku Shafa Husnul Khatimah, aku lahir di Bandung tanggal 20 Juni 1991. Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Aku dilahirkan dengan keadaan normal, aku cucu pertama dari keluarga ibuku, aku sangat disayang dan diperhatikan oleh keluarga besar i buku. Ibu dan keluargaku bercerita bahwa aku adalah anak yang sangat lucu dan menggemaskan. Ketika aku bayi sampai usiaku 20 bulan tidak ada yang dikhawatirkan terhadap diriku sebab aku tumbuh dengan sangat wajar, namun pamanku sedikit takut dengan pendengaranku, karena setiap mereka memanggil namaku, tak penah sekalipun aku menoleh, sehingga pamanku menyarankan kepada ibuku untuk memeriksakan pendengaranku, ketika itu ibuku marah besar karena menurut beliau tidak ada masalah dengan pendengaranku. Namun akhirnya ibuku ikut juga saran paman untuk memeriksakan pendengaranku.

Aku diperiksa oleh dokter THT namun dokter tidak yakin apakah aku tuli atau tidak, untuk meyakinkan apakah aku punya masalah pada pendengaranku akhirnya aku periksa BERA (test pendengaran dengan peralatan computer) . Setelah selesai pemeriksaan dan mendapatkan hasilnya betapa terkejutnya keluargaku karena dokter menyatakan bahwa aku termasuk anak tuna rungu berat, ini semua dilihat dari hasil tes BERA yang menunjukkan bahwa untuk telinga kanan tidak tembus ambang 110 Db (Decibel) - kekerasan suara yang terdengar diatas 110 Db - , dan telinga kiri mencapai 110 db.

Setelah mendapatkan hasil tes BERA tersebut keluarga besarku mencari solusi untuk pengobatanku baik melalui dokter sampai ke alternatif, karena mereka beranggapan bahwa kita harus berusaha dan berdoa semaksimal mungkin karena Allah akan memberikan hasil sesuai dengan usaha dan doa kita. B

Saat aku memasuki bangku sekolah, aku masuk TK umum di Cimahi ketika usiaku 4 tahun. Aku belum bisa bicara seperti teman-teman yang lain, namun aku tidak berkecil hati sebab aku terus belajar dan mengikuti terapi bicara, namun orang tuaku kasihan melihatku yang sering kali dibicarakan oleh teman-temanku. Akhirnya aku dipindahkan ke sekolah khusus anak tuna rungu di Jakarta. Padahal ketika itu banyak sekali hal-hal yang dikorbankan termasuk karir ayahku dimana ayahku harus cari kerja baru di Jakarta, padahal karir ayahku saat itu cukup bagus, namun demi aku mereka rela memulai dari awal lagi. Di samping itu juga aku sangat sedih harus berpisah dengan ibu Dewi Tirtatawati, beliau adalah salah satu orang yang sangat berharga bagiku, karena tanpa beliau aku belum tentu bisa berbicara seperti sekarang ini. Ibu Dewi adalah guru terapi bicaraku, dia sangat sabar dan sayang kepadaku, aku terapi setiap hari dari hari Senin sampai Jum’at, di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung.
Ketika kami pindah ke Jakarta aku dimasukkan ke sekolah SLB-B Santi Rama, namun aku hanya bisa sekolah di sana 2 minggu sebab ibuku melihat aku tidak cocok sekolah di sana. Akhirnya aku dipindahkan lagi ke TK umum Mutiara Indonesia cabang Kayu Putih,selama 2 tahun. Alhamdulilah ketika aku bersekolah di sana aku punya banyak teman, karena mereka sangat peduli dan mau berteman denganku, walaupun aku belum lancar bicara tapi mereka mau mengerti dan memahamiku. Setelah itu aku pindah lagi ke Cimahi untuk masuk SD. Di Cimahi aku masuk sekolah SD umum yaitu SDN 2 Cimahi. Aku masuk SD berumur 7 tahun. Alhamdulillah aku bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan bicaraku pun semakin baik juga sebab aku tetap terapi bicara terus sampai usiaku 7 tahun.


Ketika aku baru masuk SD sampai kelas 4 aku sering dihina teman-temanku, mereka bilang aku si kuping robot sebab di telingaku ada alat bantu dengar, tapi aku tak menghiraukan mereka yang penting aku tidak merugikan mereka dan tidak membalasnya. Alhamdulillah setelah kelas 5 teman-temanku tidak lagi menghinaku. Aku di sekolah tidak minder. Aku berpikir, aku seperti ini adalah kehendak Allah. Aku, orang tuaku dan keluarga besarku tidak ingin aku dikasihani, sehingga aku diperlakukan sama seperti yang lain. Aku di sekolah memang tidak dapat ranking 5 besar tapi nilaiku cukup bagus terbukti dengan nilai UPMPku sehingga aku bisa masuk SMPN 1 Cimahi.yang menurut orang-orang SMPN favorit yang sangat bagus dan berat untuk bisa masuk ke sana.

Ketika aku duduk di kelas 1 SMP, aku memutuskan untuk menggunakan kerudung. Alhamdulillah aku punya banyak teman. Teman-temanku tidak menyangka kalau aku adalah anak tuna rungu, bahkan guru-guru juga. Ibuku selalu bercerita kepada guru-guru BP, padahal aku tidak ada masalah dengan pelajaran di sekolah, kecuali setiap ada pelajaran mendengar (listening), aku sangat susah untuk mengikuti. Alhamdulillah pada pelajaran lain aku dapat menerima dengan cukup baik.

Sekarang aku kelas 3 SMP, aku pernah ikut olimpiade matematika se-kota Cimahi ketika kelas 2 SMP, alhamdulillah aku dapat peringkat 3 ketika tes tertulis. Ketika SD aku juga sering juara lomba Sempoa Aritmatika dan Mewarnai. Aku juga belajar drum sampai sekarang sebab setelah aku belajar drum aku bisa belajar alat musik lain seperti gitar, keyboard, recorder. Sebelum aku belajar drum aku tidak bisa belajar alat musik apapun dan entah kenapa setelah aku belajar drum aku bisa belajar alat musik yang lain. Mungkin di drum aku belajar ketukan sehingga aku sedikit tahu tentang alat musik yang ditentukan dengan tempo (ketukan). Aku juga tidak malu kalau tampil main drum dan aku pernah tampil ketika kota Cimahi berulang tahun. Orang-orang yang tidak tahu tentang keadaanku mereka tidak menyangka bahwa aku anak tuna rungu berat sebab aku bisa bicara seperti anak normal. Namun, memang aku sering tidak bisa mendengar kalau orang bicara pelan walaupun aku sudah pakai Alat Bantu Dengar.

Aku dan keluargaku ingin sekali berbagi kepada semua orang yang memiliki anak tuna rungu, sebab orang sering beranggapan kalau anak tuna rungu itu tidak bisa berbicara dengan lancar. Aku ingin tunjukkan bahwa yang tuna rungu bisa berbicara dengan lancar dan baik sebagaimana orang normal. Kami ingin menginformasikannya kepada semua orang.

Kisah Shafa: Belajar Berbicara

Sep 15th, 2008 by admin | 1

Aku masih ingat mungkin usiaku sekitar 5 tahun. Setiap hari aku pergi ke RSHS untuk terapi wicara. Alhamdulillah aku dapat terapis yang sanga baik dan peduli.

Terima kasih Bu Dewi, jasamu tak terbalaskan.

Aku setiap hari terapi wicara, aku bilang kalo terapi wicara itu sekolah sebab aku seperti orang mau sekolah. Aku selalu bawa bekal makanan, aku bawa pensil dan buku, tak lupa aku bawa tape (radio rekaman) untuk merekam. Selain aku belajar terapi wicara aku juga jadi bisa membaca lebih lancar dan bisa menulis. Kalau tape untuk merekam supaya nanti di rumah bisa di dengar ulang dan aku bisa latihan yang lebih banyak sehingga aku jarang sekali mengulangi huruf atau kata-kata yang sudah di berikan oleh Ibu Dewi.

Aku senang sekali terapi wicara walaupun aku sakit aku tetap ingin terapi wicara sebab aku ingin bicara. Yah, harus butuh perjuangan kan? sayang kalo dipake dengan sia-sia..
Dulu aku belum bisa bicara, aku sering marah-marah sebab kesel ko orang tidak mengerti apa yang aku maksudkan, tapi aku beruntung mempunyai kelurga yang sangat sabar dan menyayangiku. Dulu aku suka mengganggu adikku Athifa, maksudku bukan menggangu tapi ingin bermain bersama namun Athifa tidak mengerti kali ya. Setiap kali Athifa main pasti mainannya aku ambil padahal mainan yang lain banyak, untung Athifa baik sehingga selalu mengalah, mungkin kesabaran Athifa benar-benar aku uji ya ???

Tapi pernah juga aku digigit perutku gara-gara aku selalu merebut mainan yang sedang Athifa mainkan, dan Athifa kesal sehingga perutku digigitnya, sampai sekarang ada bekasnya lo….Tapi aku bersukur punya adik-adik yang baik dan mengerti aku.

Aku ketika TK di Cimahi tidak punya teman sebab mereka tidak ingin bermain denganku karena aku tidak bisa bicara, namun aku tidak peduli yang penting aku mau sekolah dan aku mau pintar.

Aku juga punya tetangga (Mauren) dia sangat baik sekali, walaupun aku tidak bisa bicara namun dia mau bermain denganku asal aku mau pakai ABD. Biasanya yang menterjemahkan kata-kataku yah Athifa, Athifa cukup mengerti bahasaku walaupun dulu sering dibilang bahasa planetnya Shafa.

Aku rajin terapi Wicara, dan dirumah aku sering mengulangi pelajaran ketika terapi, yang sangat membantu terapi dirumah yaitu ibu, Athifa, bibi Ningsih. Mereka selalu mengingatkanku bila aku salah dalam pengucapannya. Kalau ayah karena bekerja jadi jarang mengajariku mengulangi pelajaran terapi wicara. Ayah banyak mengajariku membaca dan berhitung dengan menggunakan komputer.

Alhamdulillah setelah berjuang aku bisa juga bicara dan sekarang aku sudah tidak merasakan berbeda dengan orang normal lainnya.

Sumber: http://www.shafahk.multiply.com

In My Humble Opinion

Sep 15th, 2008 by admin | 0

Catatan : Nora Amelda Rizal

Setelah melihat dan mempelajari berbagai macam hal mengenai tuna rungu, ada beberapa hal yang ingin saya simpulkan dan tuliskan di sini:

1. Terapi untuk Tuna rungu pada jaman ini SANGAT BANYAK, tidak hanya terpaku pada terapi tertentu saja. Tapi musik pun ternyata juga sudah merupakan bagian dari terapi untuk anak tuna rungu, malahan adalagi yang masih saya olah terjemahannya yaitu Terapi Qur’an. Yang sangat saya sedihkan, hal ini baru saya ketahui setelah setahun surfing-surfing sana sini. Kenapa? karena di Indonesia ini atau di dunia juga pada umumnya tidak ada satu juklak pun yang memberitahukan bahwa betapa banyak terapi2 apa saja yang bisa ditempuh oleh penderita tuna rungu. Yang selalu digembar-gemborkan hanya beberapa terapi saja. Kecurigaan saya semakin kuat bahwa dibalik terapi-terapi yang ngetop ini ada suatu bisnis lain yang ikut membonceng. Sangat … sangat menyedihkan. Kecacatan dibuat menjadi suatu profit bisnis yang mengerikan! Semoga perkumpulan kita ini dapat membuat suatu prosedur yang valid dan mantap, juga terapi yg bisa diajarkan ke siapa saja, untuk the next generation of hearing impairments!

2. Bila tadi mengenai konsep pemikiran jaman sekarang, kita juga terbentur dengan konsep pemikiran jaman dahulu, yaitu stigma masyarakat awam mengenai penderita tuna rungu. Ketika masyarakat awam mendengar kata-kata tuna rungu mereka hanya menunjukkan rasa simpati, dan kemudian di benak mereka, kasihan.. mereka hanya jadi second class people. Hal ini semakin diperkuat oleh beberapa unsur di sekolah spesial yang masih meyakini bahwa ketuna runguan harus diterima dan tak ada yang bisa merubah, meskipun dibantu dengan alat bantu dengar. Malah pernah saya bertemu dengan salah satu unsur di dalam satu sekolah, ketika saya lagi mengadakan pengamatan, mengatakan bahwa mereka tidak suka dengan tekhnologi yang ada yang membuat anak-anak ini mendengar, itu merupakan pelanggaran hak, dan memperkosa mereka! Waduuh…. luar biasa, saya sampai speechless ketika mendengar hal ini. Ketika semua orang tua manapun percaya dan manut dengan unsur sekolah, sangat menyedihkan bahwa akibat opini jadul seperti ini maka anak-anak menjadi korban. Orang tua percaya bahwa anak mereka sudah begitu adanya, tidak akan bisa diapa-apakan lagi. Bersyukurlah dengan kita yang masih bisa membuka pintu dunia di manapun melalui internet ini, bayangkan bagi mereka yang tidak mampu!

3. Opini orang tua sendiri. Masih banyak yang saya perhatikan orang tua merasa sangat kasihan dengan anak-anak tuna rungu, sampai seolah2 bagaikan anak yang betul-betul invalid. Akhirnya orang tua ini menerima kemajuan anaknya yang sangat kecil sebagai suatu pencapaian yang sudah maksimum dan selesai. Misal, ketika anak belajar berbahasa ooh anak saya sudah bisa berkata satu huruf, walaupun masih belum jelas layaknya orang normal berbicara, mereka sudah puas! Cukup.. itu saja sudah bagus, sudah bisa dimengerti. Ketika si anak di motivasi kembali, orang tua mengatakan itu saja sudah cukup! Sangat disayangkan karena hal ini akan berpengaruh pada mental si anak, anak menjadi terlalu cepat puas dengan pencapaian yang telah ia raih. Padahal bila kita melatih anak kita yang normal kita selalu menyuruh anak kita untuk terus berjuang. Jadi kenapa anak tuna rungu harus dibedakan??

Akhirnya si anak semakin menyadari dia mempunyai kekurangan. Akhirnya si anak makin menyadari bahwa dia orang yang harus di toleransi. Segala rintangan yang kelak dia hadapi akan melemahkan daya juangnya karena dia permissive pada diri sendiri. Padahal di dalam masyarakat tidak ada toleransi, semua orang dianggap sama.

Gitu dulu… any comments?

Sumber: http://icanhear.multiply.com

Terapi Musik Bagi Untuk Tuna Rungu

Sep 15th, 2008 by admin | 0

CAMT, Wilfrid Laurier University

(terjemahan bebas oleh: Nora. A. Rizal)

Kerusakan pendengaran ditengarai merupakan salah satu kecacatan syaraf yang paling merusakkan. Dimana kecacatan penglihatan merupakan handicap kita dengan sekeliling kita, sedangkan kecacatan pendengaran merupakan handicap komunikasi dengan masarakat (Darrow, 1989). Komunikasi merupakan dasar dari kehidupan social kita dan aktivitas intelektual, dan tanpa itu kita terputus dari dunia. Untuk alasan inilah, praktek klinik dalam terapi musik untuk tuna rungu di fokuskan pada area yang berhubungan dengan komunikasi seperti : pelatihan auditory, produksi suara (berbicara) dan perkembangan bahasa. Melalui penelitian dalam kekurangan pada komunikasi ini, terapi musik menjadi suatu efek kedua untuk memperbaiki rasa sosial dan kepercayaan diri.

Terapi musik masih dianggap tidak praktis. Dikarenakan sebagian besar orang masih mempunyai konsep yang salah terhadap ketuna runguan dalam kapasitasnya untuk mendengar dan mengapresiasi stimulus musik. Seperti yang telah Darrow (1989) katakan, hanya sebagian kecil persentasi dari ketunarunguan yang tidak bisa mendengar sama sekali. Selanjutnya ia mengatakan bahwa, dikarenakan variasi dari frekuensi dan intensitas pada musik, persepsi musik malah lebih bisa ter-akses, dibandingkan dengan sinyal percakapan yang lebih kompleks. Musik juga sangat fleksible dan dapat dimodifikasikan pada level pendengaran pada setiap orang, level bahasa, kematangan dan preferensi musik.

Robbins & Robbins (1980), yang membuat manual resource yang komprehensif dan kurikulum bagi terapi musik untuk tuna runggu melakukan pendekatan terhadap subyek bersangkutan dengan mempunyai sikap yang mempercayai bahwa sense terhadap musik ada pada setiap orang. Melalui musik, mereka mengarah pada sensitivitas yang inherent dan kapasitas merespon langsung kepada ekspresi dari ritme dan variasi nada, yang dideskripsikan sebagai musik. Mereka juga menekankan, bahwa musik dari berbagai sisi mempunyai efek pada manusia. Musik merupakan media untuk aktivitas dalam bereksplorasi dan pengalaman diri, sehingga berhubungan langsung pada bicara dan bahasa, komunikasi dan pikiran, juga pada ekspresi tubuh dan emosi dalam skala besar. Sehingga terapi musik dapat masuk dan meningkatkan habilitas dan perkembangan secara luas bagi ketuna runguan.

Bagi penderita tuna rungu, terapi musik dapat:

Meningkatkan auditory, pelatihan dan perluasan penggunaan dari sisa pendengaran

Auditory training, merupakan bagian yang terintegrasi denga proses habilitasi pada penderita tunarungu. Tiap individu harus belajar untuk menginterpretasikan dan mengikuti suara, terutama percakapan dalam lingkungannya, dengan maksud untuk meningkatkan rate dan kulitas perkembangan sosial dan komunikasi. Tujuan utama dari auditory training ini adalah untuk mengembakan sisa pendengaran menjadi maksimal. Mereka harus belajar untuk mendengarkan mental yang kompleks dan proses aural. Pelatihan auditori cenderung fokus pada developmment dan fokus untuk analisis suara untuk pasien tuna rungu, dan ini akan menjadikan suatu proses yang membosankan dan tidak menarik. Maka dari itu musik menjadi suatu alat yang memotivasi dan menghidupkan sesi-sesi ini.

Percakapan dan musik mengandung banyak persamaan. Persepsi auditori pada percakapan dan musik melibatkan kemampuan untuk membedakan antara perbedaan suara, pitch, durasi, intensitas dan warna nada dan bagaimana suara bisa berubah-ubah sepanjang waktu. Properti-properti ini terdapat pada kemampuan pendengaran untuk menginterpretasi suara dan mengartikannya. Persamaan yang ada antara musik dan percakapan menyebabkan musik dan terapi musik membuat suatu alternatif dan alat yang menyenangkan untuk melengkapi tehnik pelatihan auditory sebelumnya (Darrow, 1989).

Prosedur terapi musik dapat dapat memberikan beberapa obyek pada pelatihan auditory. Perhatian terhadap suara, perhatian terhadap perbedaan dalam suara, mengenali obyek dan juga suara obyek tersebut, dan penggunaan pendengaran untuk menentukan jarak dan lokasi dari suara dapat dilatih melalui pengalaman pada musik (Darrow 1989). Selain itu, Robbins & Robbins (1980) menemukan bahwa dengan musik yang cocok lebih gampang untuk di dengar dan diasimilasikan dibandingkan dengan percakapan, sehingga lebih cocok untuk dapat menstimulasi motivasi alami pada sisa pendengaran.

Amir & Schuchman (1985) membuat suatu program terapi musik untuk mengembangkan dan meningkatkan kecakapan dalam kesadaran akan suara musik, kesadaran akan kontras intensitas, menyadari adanya suara musik dan juga patron dari musik tersebut. Suatu investigasi untuk melihat keefektifan dari program tersebut memberikan suatu hasil bahwa ada aspek-aspek tertentu untuk seseorang yang profoundly deaf dapat diukur peningkatannya melalui suatu program sistimatik pada pelatihan pendengarannya dalam konteks musikal. Terutama level pendiskriminasian subyek secara signifikan meningkat dan pelatihan dari subyek dalam menerima musik dan juga lingkungan musik tersebut. Amir & Schuchman selanjutnya menyuport penggunaan terapi musik ini dikarenakan hal ini memberikan suatu diversifikasi yang menarik dan pengalam pengajaran yang positif, dengan memperkuat penggunaan sisa pendengaran. Meningkatkan perkembangan percakapan dan meningkatkan intonasi/ritme suara dalam percakapan.

Suara dari seseorang yang mempunyai kekurangan pendengaran sering terdengar aneh dan tidak natural. Pada individu ini sering terjadi kurangnya feedback mekanisme internal yang diperlukan untuk memonitor dan menyesuaikan, sebagai contoh, pelafalan kata-kata, perubahan tinggi rendah (pitch) suara ataupun ritme suara. Sebagai konsekuensi produksi dari suara percakapan mereka sering tidak jelas dan terdistorsi. Penderita tuna rungu ini juga cenderung menunjukkan sedikit variasi pitch dan intonasi dibandingkan orang dengan pendengaran normal, sehingga menghasilkan suara yang monoton. Mereka sering memanjangkan suku kata dan atau kalimat dan juga sering mengambil jeda pada posisi yang tidak tepat. Problem-problem dari ritme dan intonasi ini berpengaruhi pada ketidak jelasan dalam bercakap.

Tehnik dari terapi dan aktivitas musik dapat membantu secara efektif pada perkembangan percakapan dari segi ritme, intonasi, rate dan tekanan suara. Darrow (1989) mendisikusikan penggunaan terapi musik dalam pengertian berbahasa, intonasi vokal, kualitas vokal dan berbicara lancar. Proses bernafas, ritme dan pengambilan waktu yang tepat, pitch dan artikulasi yang diperlukan untuk bernyanyi, memberikan struktur dan motivasi yang penting pagi pasien. Darrow juga menekankan pada pentingnya feedback yang konstan untuk si terapis.

Darrow & Starmer (1986) mempelajari efek dari pelatihan vokal pada frekuensi dasar, range frekuensi dan kecepatan percakapan pada suara anak-anak tuna rungu. Anak-anak ini cenderung mempunyai frekuensi dasar yang tinggi dan sedikit variasi pitch, memproduksi suatu permasalahan dalam kecakapan berbicara. Hasil dari studi ini menyarankan bahwa dengan latihan pada vokal tertentu dan menyanyikan lagu-lagu pada kunci nada rendah yang tepat dapat membantu memodifikasian frekuensi dasar dan range frekuensi pada pasien. Studi lain dari Darrow (1984) juga menunjukkan peran dari terapi musik adalah melatih respons ritme, sehingga membuat respons pada ritme dari suara percakapan menjadi lebih baik.

Staum (1987) telah sukses menggunakan notasi musik untuk mempengaruhi dalam memperbaiki pengucapan bahasa pasien. Ia menggunakan sistem notasi visual sebagai alat untuk membantu pasien dalam mencocokkan kata-kata atau suara dari kata-kata baik yang lazim maupun tidak lazim, dengan ritme yang tepat dan struktur yang dari pitch yang mudah. Hasil positif yang didapat adalah nada pelafalan pengucapan lebih berkembang, juga penyamarataan dan transfer ilmu berkembang secara signifikan

Robbins & Robbins (1980), setelah pelatihan pada pasien tunarungu, mengatakan bahwa kontribusi dari terapi musik untuk memperkuat dan/atau mempercepat pembelajaran dan penggunaan percakapan, vokal yg lebih luas/spontan dan mantap, memperbaiki kualitas suara dan lebih leluasa dalam menggunakan intonasi dan ritme.

Meningkatkan perkembangan dan pendidikan bahasa, dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara umum

Bagi anak-anak tuna rungu, keterbatasan input pendengaran tidak hanya mempengaruhi kemampuan untuk mendengar suara percakapan dari orang lain, namun juga mempunyai dampak negatif terhadap perkembangan bahasa mereka sendiri. Keteraturan memperdengarkan bahasa melalui pendengaran, memberikan informasi penting mengenai vocabulary, syntax (kalimat), semantics (arti kata) dan pragmatics, yang mana hal ini secara langsung diterima oleh anak dengan pendengaran normal. Tanpa keteraturan mendengarkan ini, bagi anak dengan pendengaran terbatas biasanya akan mempunyak banyak problem pada bahasa mereka. Kesulitan itu biasanya terdapat pada kurangnya vocabulary, kesulitan dalam mengartikan kata, menggunakan kata yang salah, struktur dan isi bahasa yang salah, dan lainnya. Kesulitan-kesulitan dalam menggunakan bahsa ini selanjutnya akan menghalangi individu tersebut dari komunikasi yang mempunyai arti dan juga berinteraksi. Problem berbahasa dapat menimbulkan efek negatif pada pendidikan seperti membaca, menulis dan pemahaman (Gfeller, & Baumann, 1988).

Secara signifikan terapi musik memberikan konstribusi pada kemampuan untuk berkomunikasi dan berbahasa pada pasien tuna rungu. Sebagai contoh Gfeller (1990), mendiskusikan tentang pengayaan repertoire musik dan pengalaman bergerak dalam terapi musik, yang dapat di gabungkan dengan percakapan dan, setelahnya penulisan kata. Anak-anak kecil terutama menggunakan setiap saat pergerakan motorik dan belajar sesuatu melalui manipulasi dari lingkungannya. Instrument musik dan materialnya kaya akan sumber-sumber keterlibatan pada sensorik dan motorik. Pengalaman pada Multi sensory bahwa musik merupakan alat pembelajaran yang bernilai, yang pada akhirnya juga terkait pada representasi mental atau simbol, Gfeller (1990). Event musik dan sekuensialnya dapat dibuat oleh para terapis sebagai model penggunaan bahasa untuk anak. Semenjak rehabilitasi bahasa merupakan suatu proses yang panjang dan lama, terapis musik dapat memberikan motivasi penting untuk membuat aktifitas menjadi bermain dan menyenangkan. Aktivitas dalam terapi musik dapat juga membuat suatu oportuniti untuk menggunakan konsep bahasa dalam konteks yang berbeda

Penelitian lain juga menemukan bahwa integrasi musik dalam pendidikan sebagai bahasa seni sangat menguntungkan (Darrow, 1989; Gfeller, & Darrow, 1987). Tidak hanya meningkatkan motivasi tapi juga memberikan sebuah pendekatan multi sensori untuk belajar, yang dapat membantu pasien untuk mendalami arti dari kata-kata baru. Bernyanyi contohnya, memberikan suatu kesempatan untuk secara intensif menggunakan pendengaran dan beraktifitas vokal. Mempelajari lagu dapat menstimulasi latihan dalam pembedaan auditori, membedakan dan meleburkan bunyi huruf, pengucapan suku-suku kata dan pelafalan kata (Gfeller, & Darrow, 1987). Hal ini dapat juga membantu mengembangkan penguasaan kata-kata dan memberikan suatu pengalaman dalam belajar membuat struktur kalimat dan semantiknya. Membuat lagu dapat juga bertujuan sama. Lagu juga mempunyai kelebihan dalam melafalkan suatu patron nada, menjadi tidak monoton.

Disamping meningkatkan perkembangan bahasa dan mendidik bahasa pada pasien tuna rungu, terapi musik juga meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan memberikan semacam kesadaran dan kemampuan melihat suatu arti yang diselaraskan/disampaikan melalui “nada pada suara”. Hal-hal penting didalam berkomunikasi dengan orang lain adalah espresi wajah, body language, dan pitch serta intensitas dinamik. Kesadaran dan kepekaan terhadap style dari bahasa yang diucapkan oleh diri sendiri dan orang lain, dapat diberikan dengan berhasil melalui penerapan terapi musik. Dengan menggayakan suatu lagu dan memberi isyarat pada lagu dengan cara yang “gaya baik/indah”, seseorang dapat mempelajari untuk menggunakan dan menyadari nuansa dalam berkomunikasi dengan yang lain (Gfeller, & Darrow, 1987). Berisyarat dalam bernyanyi juga memberikan suatu kesempatan untuk mengeksplorasikan ekspresi dari emosi sendiri, karena lirik dan melodi secara persamaan dapat mengungkapakan suatu ekspresi jiwa dibandingkan dengan hanya berbicara.

Mengembangkan jiwa sosialisasi, kesadaran diri, kepuasan emosinal dan meningkatkan kepercayaan diri

Didalam beberapa literatur mengkarakterkan bahwa seseorang tuna rungu mempunya perasaan kuat akan rendah diri dan depresi, juga mempunyai sikap tidak bisa dipengaruhi dan tertutup (lihat ulasan ulang dari Galloway, & Bean, 1974). Body-image dan kesadaran yang tidak terlalu baik, kurangnya berbahasa dan berkomunikasi, dan tertutupnya rasa sosialisasi, memberikan kontribusi secara signifikan pada perasaan-perasaan ini. Terapi musik dapat memberikan kesempatan yang penting untuk memperbaiki masalah ini dan meningkatkan rasa percaya diri seseorang yang tuna rungu.

Brick (1973) menemukan eurhythmics—Seni dari keharmonisan dan gerak tubuh yang ekspresif—dan aktifitas musik yang memberikan pasien suatu pengalaman yang menyenangkan, dimana hal tersebut memberikan energi kreatif untuk pasien. Hal ini sebaliknya membantu mengembangkan kepercayaan diri, memberi rasa bangga dalam menyelesaikan sesuatu dan bekerja sama dalam satu grup. Robbins & Robbins (1980) juga menemukan bahwa aktifitas kelompok musik dapat memberikan contoh untuk menyesuaikan didalam bersosialisasi. Hasil hakiki yang didapat dalam pengalaman bermusik sepertinya dapat memotivasi pasien yang selalu melawan untuk dapat bekerja sama (co-operative), yang selalu tidak fokus menjadi fokus dan yang selalu gagal menjadi berusaha untuk selalu menyelesaikan pekerjaannya. Pasien yang juga selalu jelek/gagal dalam hal lain, dapat menerima bantuan spesial dan kompensasi yang baik melalui terapi musik ini.

Body-image dan kesadaran juga dapat meningkat melalui terapi musik ini. Galloway & Bean (1974) menemukan bahwa aktivitas bernyanyi dan melakukan gerakan pada musik juga efektif. Robbins & Robbins (1980) juga menekankan pentingnya realistis dan positif pada diri sendiri. Mereka menemukan juga bahwa kecakapan dalam bergerak yang dipelajari melalui musik dapat meningkatkan rasa percaya diri, koordinasi, sikap tenang yang alami dan kesadaran akan jati diri.

Bernyanyi, bermain atau bergaya pada suatu lagu dapat menghasilkan seseorang untuk dapat berekspresi dan puas terhadap diri secara emosional. Gfeller & Darrow (1987) menyarankan bahwa bergaya atau bernyanyi pada lagu yang dibuat sendiri, juga dapat membuat seseorang tuna rungu untuk mengekspresikan atau mengilustrasikan pikirannya, perasaannya dan idenya bila hal itu terlalu sulit untuk dituliskan. Staum (1987) juga menemukan bahwa tehnik dan prosedur terapi musik dapat memberikan suatu skill yang fungsional yang dapat terintegrasi langsung di dalam pelajaran musik secara private maupun secara klasikal. Melalui suatu cara yang dapat di transfer diluar sesi terapi, seseorang lebih bisa dan senang untuk berekspresi pada situasi baru , bertemu orang baru, dan dapat bekerja dalam suatu grup-grup. Hal ini sebaliknya pula memberikan suatu rasa tanggung jawab sosial juga kesadaran, kebanggan dan kepercayaan diri dan sosial.

Kepustakaan

Amir, D., & Schuchman, G. (1985). Auditory -training through music with hearing-impaired preschool children. The Volta Review, 87(7), 333-343.

Investigates the effects of auditory training within a musical context on how hearing-impaired preschool children use their residual hearing. Found music therapy techniques to be a useful adjunct to other techniques for maximizing residual hearing use.

Brick, R. (1973). Eurhythmics: One aspect of audition. The Volta Review, 75(3)155-160.

Describes the use of eurhythmics–the art of. harmonious and expressive bodily movement-to enhance the teaching of speech and audition.

Darrow, A. (1984). A comparison of rhythmic responsiveness in normal and hearing impaired children and an investigation of the relationship of rhythmic responsiveness to the supra segmental aspects of speech perception. Journal of Music Therapy, 21(2), 48-66.

Investigates differences between normal and hearing impaired children’s rhythmic responsiveness. Discusses rhythmic responsiveness as related to perception of prosodic elements of speech.

Darrow, A. (1989). Music therapy in the treatment of the hearing-impaired. Music Therapy Perspectives, 6, 61-70.

Details a music therapy procedure for auditory training and the speech and language development of the hearing impaired.

Darrow, A., & Starker, G. (1986). The effect of vocal training on the intonation and rate of hearing impaired children’s speech. Journal of Music Therapy, 23(4), 194-201.

Examines the effect of vocal training on the fundamental frequency, frequency range, and speech rate. Results indicate significant reduction in fundamental frequency and increase in frequency range.

Galloway, H., & Bean, M. (1974). The effects of action songs on the development of body-image and body-part identification in hearing-impaired preschool children. Journal of Music Therapy, 11, 125-134.

Results suggest that music may be a useful method in teaching selected concepts to hearing-impaired persons.

Gfeller, K. (1990). A cognitive-linguistic approach to language development for the preschool child with hearing impairment: Implications for music therapy practice. Music Therapy Perspectives, 8, 47-51.

Outlines the basic components of a cognitive-linguistic model for language rehabilitation and discusses them as they relate to music therapy practice.

Gfeller, K., & Baumann, A. (1988). Assessment procedures for music therapy with hearing impaired children: Language development. Journal of Music Therapy, 25(4), 192-205.

Presents an overview of language problems common to hearing impaired children, and major treatment goals and procedures in speech pathology and music therapy. Prominent assessment procedures in measuring language development are also examined.

Gfeller, K, & Darrow, A. (1987). Music as a remedial tool in the language education of hearing-impaired children. The Arts in Psychotherapy, 14, 229-235.

Discusses the role and potential of creative experience, particularly songwriting and song signing, in the language arts education of hearing impaired children.

Robbins, C., & Robbins, C. (1980). Music for the hearing impaired and other special groups: A resource manual and curriculum guide. St. Louis: MagnaMusic-Baton.

Staum, M. (1987). Music notation to improve the speech prosody of hearing impaired children. Journal of Music Therapy, 24(3), 146-159.

Discusses music notational cues as effective in improving the verbal rhythmic and intonational accuracy of hearing impaired children’s speechKerusakan pendengaran ditengarai merupakan salah satu kecacatan syaraf yang paling merusakkan. Dimana kecacatan penglihatan merupakan handicap kita dengan sekeliling kita, sedangkan kecacatan pendengaran merupakan handicap komunikasi dengan masarakat (Darrow, 1989). Komunikasi merupakan dasar dari kehidupan social kita dan aktivitas intelektual, dan tanpa itu kita terputus dari dunia. Untuk alasan inilah, praktek klinik dalam terapi musik untuk tuna rungu di fokuskan pada area yang berhubungan dengan komunikasi seperti : pelatihan auditory, produksi suara (berbicara) dan perkembangan bahasa. Melalui penelitian dalam kekurangan pada komunikasi ini, terapi musik menjadi suatu efek kedua untuk memperbaiki rasa sosial dan kepercayaan diri.

http://icanhear.multiply.com/journal/item/8/Finally_Terjemahan_Terapi_Musik_untuk_Anak_Tuna_Rungu_edisi_TAMAT