Issue Anak Tuna Rungu menjadi Dokter?!
Issue yang dilemparkan Shafa pada tanggal 29 Juli 2008 di Simposium ‘Telinga Sehat Menjamin Pendengaran yang Sempurna‘ cukup membuat heboh di simposium profesi dokter selanjutnya. Issue itu kembali diluncurkan Pak Rizal pada teman2 sejawatnya terutama yang berhubungan di bidang Audiology pada hari2 berikutnya, relatif semua menolak bahwa Shafa bisa menjadi dokter, dengan alasan bahwa atr tdk bisa mendengar detak jantung. Gak tau apa ya mereka atau tutup mata dengan adanya stetoskop khusus tuna rungu (silahkan cari di search engine stetoscope for deaf physician).
Aneh dan Kontradiksi sekali, disatu sisi para profesional yang haus akan ilmu mengenai audiologi ini mencari terus menerus ilmu canggih mengenai ketunarunguan, mencari tekhnologi yang membuat Anak Tuna Rungu menjadi normal. Namun disisi lain ketika para Tuna Rungu ini ingin normal dan menjadi normal (akibat ilmu yang para profesional ini terapkan ke pasien mereka), mereka tidak setuju dan tidak mengakui. Kok Aneh yaa??? Jadi ilmu itu untuk siapa? diri sendiri atau pasien??
Alhamdulillah salah satu dokter spesialis audiologi mendukung Shafa, dr. Ratna Anggraeni A., MKes., SpTHT-KL(K). Berarti beliau memang mendukung ilmu yang canggih saat ini dan juga mendukung hasil dari kesuksesan tersebut. Kita pegang ya Dok janjinya !
Tante-tante dan Oom-oom kita jadi badak aja yah bila mendengar hal2 negatif, biarkan saja anggap angin lalu, janganlah hal2 seperti ini membuat mental kita kembali jatuh, anak-anak masih membutuhkan kita, kita yang jadi fondasi mereka, kita lemah mereka jadi semakin lemah, kita kuat mereka pun akan jadi lebih kuat! Anjing menggonggong Kafilah berlalu
Tuk Shafa, jangan risaukan mereka yang masih negatif terhadap kemajuan kita. Kita hanyalah manusia biasa, Rasullullah saja banyak yg tidak suka kok! apalagi kita umatnya pasti lebih banyak lagi yg tdk setuju dgn kita.