A beautiful theme

Isn't WordPress cool?

Shine

Cool eh!

Giving you rotating images in the header with links

Churches

A Header Slideshow

And link to anywhere from the image...

Civic Involvement

Beautiful...

Wow!

Action

Recent Posts

Testimony

"Never bend your head. Always hold it high. Look the world straight in the face.", by the Amazing Helen Keller (a blind-deaf woman who able to speak)

Terapi Wicara, Tema Pertemuan Bulan Februari 2008

Feb 17th, 2008 by admin | 0

Minggu, 17 Februari 2008

Hari ini ada acara sharing di Bandung. Beruntung sekali kami bisa hadir di situ. Walaupun ini acaranya orang Bandung, ternyata ada 9 keluarga loh yang datang dari Jakarta … ! Tema pertemuan kali ini adalah Terapi Wicara. Pembicaranya adalah Bu Dwi Yanti dan Bu Dewi. Bu Dwi sendiri kebetulan adalah orang tua dari anak dengan gangguan pendengaran yang berprofesi sebagai terapis wicara. Sedangkan Bu Dewi adalah terapis wicaranya Kakak Shafa waktu Kakak Shafa masih kecil.

Banyak sekali manfaat yang kami dapat dari forum yang free of charge tersebut. Salah satunya adalah tentang berbagai pendekatan yang digunakan dalam terapi wicara yang diberikan untuk anak dengan gangguan pendengaran, yaitu :

1. Pendekatan stimulasi suara

2. Pendekatan total komunikasi

3. Pendekatan multi sensori :

q Auditory / mendengar

q Tactil / meraba

q Visual / melihat

4. Pendekatan auditory oral

Juga berbagai permasalahan atau kesulitan yang dialami anak dengan gangguan pendengaran, yaitu :

1. Bahasa :

isi bahasa (kata benda, kata sifat, kata kerja, dll), susunan kalimat (frase, SPOK), penggunaan bahasa (menjawab pertanyaan, bercerita, dll)

2. Artikulasi :

Kegagalan dalam pengucapan fonem-fonem tertentu, misalnya /s/ jadi /c/, dsb

3. Irama kelancaran : gagap

4. Suara : sengau, nada tinggi, dsb.

Juga kami menjadi mengerti bahwa proses untuk sampai bisa bicara itu tidak mudah. Melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan bicara adalah :

1. pemasukan bahasa (melalui mendengar)

2. mengerti bahasa

3. meniru (imitasi)

Jadi ternyata untuk sampai bisa meniru itu harus melalui proses mendengar dan mengerti.

Dan juga ternyata, terapi wicara itu bukan hanya mengajarkan bicara melalui baca bibir (lipsreading), tapi juga mengajarkan bicara melalui mendengar

Banyak terima kasih untuk Bu Dwi dan Bu Dewi, untuk semua ilmu yang telah diberikan secara Cuma-Cuma. Juga banyak terima kasih untuk Keluarga Bpk. Royke, yang telah bersedia menjadi tuan rumah pertemuan tersebut. Sungguh berguna bagi kami untuk lebih mengerti kebutuhan anak-anak kami.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.